Menemukan rasa percaya diri pascamelahirkan

Delapan bulan setelah melahirkan, euforia cerita melahirkan mulai samar-samar di pikiran. Teralihkan dengan berbagai keseruan dalam mengasuh dan melewati hari-hari bersama kesayangan. Sayangnya, masih ada bonus tidak menyenangkan dari cerita pasca-melahirkan yang  tidak bisa diabaikan begitu saja. Ialah rasa percaya diri yang tertimbun bersama tumpukan baju-baju kala sebelum hamil, bekas luka jerawat di wajah, dan bekas strechmark di perut.

Terlepas dari semua rasa bahagia yang menyelimuti, percayalah bahwa jauh di lubuk hati kami -para wanita sehabis melahirkan (atau paling tidak saya)- sesekali disibukkan mencari rasa percaya diri yang terserak entah dimana. Serasa ingin berseru “badanku dulu tak segini, tapi kini tak cukup lagi” dengan miris.

Bagaimana tidak, ketika sedang berkumpul di acara keluarga atau reuni cobalah untuk ikut foto bersama dan lihatlah hasilnya. Beruntung bila ketika difoto posisi kita tersamarkan oleh anak yang kita gendong. Atau coba saja bercermin tanpa busana sehabis mandi. Siapa tahu bisa menjadi penyemangat untuk membuat program transformasi seperti yang ada di IG-IG.

Bagi sebagian wanita mungkin ada yang sudah kembali ke berat badan normal sebulan setelah melahirkan. Bahkan ada yang seminggu setelah melahirkan sudah bisa memakai celana jeans dengan ukuran sebelum hamil. Sayangnya hal itu tidak terjadi pada saya. Selama hamil total kenaikan berat badan saya 15 kg. Lebih dari separuhnya masih  bersahabat dengan angka timbangan sampai saat ini.

Selain berat badan, bonus lainnya adalah bekas strechmark di perut yang muncul menggemparkan waktu usia kehamilan 7 bulan. Meskipun sudah mengoleskan berbagai krim anti-strechmark dari usia kehamilan 5 minggu. Apalah daya, strechmark berkehendak untuk menampakkan dirinya. Menjadi saksi dan penanda kebahagiaan dalam cerita kehamilan anak pertama kami.

Cerita ibu hamil yang terlihat lebih glowing itu memang benar adanya. Saya sendiri sering melihatnya hal tersebut terjadi pada ibu-ibu yang saya kenal. Sayangnya tidak semua wanita terlihat kinclong ketika hamil. Jauh dari glowing, bahkan terlihat lusuh dan buruk rupa karena hormon yang mengakibatkan jerawat muncul di seluruh muka. Begitulah yang terjadi pada saya.

Untungnya, saya menyadari kemungkinan-kemungkinan tersebut bisa terjadi terhadap ibu hamil manapun, termasuk saya. Sambil terus berpikir positif bahwa semua ini hanya sementara dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebahagiaan memiliki anak yang sedang saya kandung. Berusaha cuek dan menerimanya dengan legowo.

Tapi itu cerita dulu, menjadi berbeda ketika hari ini – delapan bulan setelah melahirkan- sisa-sisa bonus tersebut masih bertahan, menimbun rasa percaya diri yang harus segera saya temukan.

Untuk menemukannya, saya harus menata ulang pikiran saya. Menemukan alasan paling mendasar kenapa harus melakukannya. Jangan sampai memaksakan diri hingga mengorbankan hal lainnya. Meskipun saat ini anak saya sudah makan (MPASI), namun kebutuhan ASI tetap menjadi prioritasnya. Mungkin di sini tantangannya, menemukan keseimbangan antara kepentingan untuk sendiri tanpa mengorbankan kebutuhan anak. Adakah ibu-ibu lain yang merasa galau seperti saya?

Bersenang-senang dengan toilet training

Dulu, sebelum punya anak hampir tidak pernah terpikir ada istilah toilet training. Yang terlintas adalah pertanyaan “memang sesulit apa sih mengajarkan pipis di toilet kepada anak-anak?”

Setelah punya anak, soal toilet training ini ternyata jadi pe-er para orang tua yang lumayan merepotkan, tak terkecuali saya.

Awalnya saya tidak mau ambil pusing. Nanti saja dipikirkan jika anak saya sudah lewat 1 atau 2 tahun. Setelah dipikir-pikir, kok ya sebagai orang tua saya malas sekali. Padahal sudah diberi kepercayaan untuk merawat dan membesarkan anak.

Setelah mencari informasi di sana-sini, rupanya tidak ada aturan baku atau anjuran khusus dalam mengajarkan toilet training kepada anak. Masalah niat dan kesiapan saja. Tantangannya ada di ketelatenan.

Memasuki usia 6 bulan, anak saya sudah mulai belajar duduk. Sama dengan tanda kesiapan MPASI, saya merasa salah satu kesiapan dalam melakukan toilet training pun adalah ketika dia sudah bisa duduk tegak. Sehingga leher dan punggungnya sudah cukup menopang berat badannya.

Saat ini usia anak saya hampir 8 bulan. Saya tidak mau proses belajar ini terasa memberatkan buat anak saya maupun saya. Anggap saja sebagai salah satu arena bermain dan bagian dari rutinitas kami. Berhasil syukur, tidak pun dicoba lagi esok hari.

Sejak usianya 6 bulan sampai sekarang, jadilah sebisa mungkin kami membiasakan ritual BAB dan BAK dengan melepas popok dan duduk di toiletnya. Hasilnya, sering berhasil, tapi masih juga sering gagal. Biarlah, jangan terlalu dibawa pusing. Soal hasil nomor sekian, yang penting kami bersenang-senang karena ada saja hal lucu untuk ditertawakan.

Tujuan saya sebenarnya adalah mengajarkan dan mengenalkannya sedini mungkin. Cepat atau lambat dia bisa melakukannya, biarlah dia yang memilih. Yang paling penting jangan lupa bersenang-senang dengan prosesnya.

Tentang tekanan sosial merawat anak

Tidak ada rumus baku dan ilmu pasti dalam mengasuh anak. Percayalah pengalaman dan insting kita adalah guru terbaik yang akan menuntun kita dalam memilih tindakan yang dirasa paling baik untuk anak kita. Apa yang diterapkan oleh ibu lain untuk anaknya belum tentu cocok dilakukan untuk anak kita.

Berbicara mengenai pola asuh memang bukan hal yang selesai dalam sekali duduk sambil nongkrong di kedai kopi favorit. Apalagi jika lawan diskusi kita adalah orang yang memiliki pemikiran berbeda. Namun melihat sudut pandang orang lain dalam membesarkan anak bisa membuka wawasan dan yang terpenting adalah saya bisa belajar.

Sebagai ibu baru yang masih minim pengalaman, terkadang saya merasa kurang percaya diri dengan tindakan yang saya lakukan. Apalagi jika melibatkan keputusan yang berhubungan langsung dengan pilihan metode pengasuhan. Bahkan sejak awal sebelum sang anak terlahir ke dunia, pertanyaan- pertanyaan seperti mau melahirkan dengan normal atau cesar, di rumah sakit atau di klinik, mau lotus birth atau tidak, dan sebagainya sudah membuat kewalahan.

Tidak berhenti di situ, masalah krusial lain adalah ketika si bayi sudah berada dalam pelukan. Sanggupkah saya memberikan ASI eksklusif sambil bekerja penuh waktu? Siapakah nanti yang akan menjaga anak di rumah? Apakah anak saya akan baik-baik saja jika tumbuh dengan bantuan pengawasan orang lain dan tidak didampingi selama 24 jam oleh ibu-bapaknya? Satu pertanyaan akan melahirkan pertanyaan berikutnya yang disusul dengan rasa kekhawatiran. Mampukah saya menjadi orang tua yang baik?

Lebih parah lagi, di era yang katanya zaman now ini, setiap ibu pasti tidak bisa lepas dari terpaan media sosial. Keinginan untuk update di insta story, facebook, atau path begitu tak tertahankan. Seolah berlomba-lomba ingin menunjukkan kepintaran anaknya. Secara tidak sadar, perlahan dan pasti terpaan informasi tersebut merasuki pikiran dan menjadikan kita sebagai orang tua yang insecure, meninggalkan tekanan sosial dalam mengasuh anak. Bisakah saya punya anak sepintar dan selucu dia?

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai orang tua kita memiliki kecenderungan untuk membandingkan tumbuh kembang anak kita dengan anak-anak lainnya. Paling tidak terlintas di pikiran apakah anak kita sudah sebaik atau sepintar si anak artis itu? Percayalah bahwa kenyataan tak melulu seindah dan seinstant postingan di media sosial. Sudah banyak penelitian yang membuktikannya.

Jangan biarkan pikiran kita terjebak pada ketidaknyataan apalagi sampai terobsesi. Bisa jadi yang dirugikan adalah anak kita, bukan kita. Sebelum posting tentang anak kita di media sosial, coba bayangkan dalam 10 atau 20 tahun kemudian, apakah dia tidak masalah dengan apa yang kita unggah hari ini? saya pun masih terus belajar.

Sampai pada satu titik saya menyadari bahwa menjadi orang tua yang baik bukanlah soal seberapa banyak pujian atau hadiah yang ditujukan padanya. Bukan pula soal sudah sepandai apa kemampuannya dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Kebahagiaan menjadi orang tua adalah ketika saya bisa hadir untuknya, mendampingi setiap tahap tumbuh kembangnya, dan menikmati setiap prosesnya.

Menyusui; dari perjuangan jadi kesenangan

Perjalanan menyusui Maika memang penuh suka dan duka. Dari sama-sama belajar sampai sama-sama saling ketergantungan. Pada bulan pertama setelah melahirkan tidak pernah terbayang bahwa memberikan ASI akan sangat menyenangkan. Semuanya malah terasa seperti mimpi buruk meninggalkan cerita patah hati bernama baby blues. 

Benar orang bilang bahwa memberikan ASI itu harus dengan keras kepala. Karena kalau kita ragu, keinginan untuk mengASIhi itu akan goyah seketika saat dihadapkan pada masalah tak terduga. Tanpa bermaksud menyudutkan pilihan lainnya, memberikan ASI bukanlah sebuah pilihan bagi saya melainkan keharusan.

Selain sadar bahwa ASI adalah asupan terbaik untuk anak saya, karena saya pun membutuhkannya. Bukan juga sekedar masalah bonding ibu dan anak, melainkan alasan kesehatan saya dan anak saya. Karena itu, saya punya alasan kuat untuk terus berusaha ketika di awal Maika kesulitan belajar menyusu.

Tak kenal waktu pagi, siang, tengah malam, saya dan Maika waktu itu belajar menyusu terus menerus. Frustrasi? Sangat. Mata berat karena tak cukup tidur, badan pun masih terasa remuk, belum lagi sakit payudara yang bengkak dan bikin panas dingin. Setengah mati melewati pijatan demi pijatan laktasi supaya ASI segera keluar.

Tapi percayalah, tidak ada yang lebih menghancurkan hati selain rasa tidak berdaya melihat Maika yang belum bisa mendapatkan ASI pada saat itu.

Mabuk ASI | Tak ada kata yang bisa mewakili kebahagiaan saya ketika menatapnya puas menyusu.

Beberapa hal di bawah ini bisa dilakukan agar ASI segera keluar setelah melahirkan :

  1. Melakukan pijatan pada bagian payudara dari sebelum melahirkan. Amannya dimulai pada usia kehamilan 36 minggu karena pijatan pada payudara bisa memicu kontraksi.
  2. Konsumsi asupan yang bisa melancarkan ASI dari sebelum melahirkan. Misalnya perbanyak buah-buahan, sayuran, dan susu kedelai. Bila perlu minta resep vitamin/suplemen dari dokter kandungan.
  3. Pijat laktasi segera setelah melahirkan. Idealnya beberapa jam setelah Ibu dan bayi sama2 bersih dan cukup beristirahat. Awalnya pijatan ini akan terasa sakit dan tidak nyaman, tapi wajib dan bagus untuk membuka sumbatan ASI pada kelenjar payudara.
  4. Berpikir positif dan yakin bahwa ASI segera keluar dan cukup untuk bayi kita
  5. Rileksasi untuk mengurangi ketegangan dan melepaskan hormon stres. Ingat selalu bahwa semakin kita rileks semakin cepat dan banyak ASI yang keluar.
  6. Penuhi diri kita dengan perasaan cinta dari suami, keluarga, dan terutama dengan bayi yang baru saja kita lahirkan. Quality time seperti bercanda bersama suami dan bayi kita sangat membantu mendorong semangat positif.

Dari perjuangan jadi kesenangan

Stok ASIP | Sewa freezer karena kulkas rumah tidak cukup menampung stok ASIP.

Dengan keras kepala saya ingin memberikan ASI, segala upaya saya lakukan. Seperti kata-kata bijak yang selalu saya dengar, bahwa tidak ada upaya yang menghianati hasilnya. Hari ini 7,5 bulan berlalu, saya sangat bersyukur  masih bisa memberikan ASI untuk Maika. Melewati 6 bulan masa ASI eksklusifnya dan masih ingin melanjutkan sampai 1,5 tahun kemudian.

Perjuangan memberikan ASI belum selesai. Sejak Maika berusia 3 bulan kurang, saya sudah kembali bekerja sehingga saya tidak bisa memberikan ASI secara langsung. Siang hari, Maika minum ASI Perah (ASIP) – dengan bantuan dot dan botol – hasil pompa selama di kantor. Malamnya, sepulang kerja dan mandi saya langsung menyusui Maika. Semua rasa lelah dan penat hilang seketika, yang tersisa hanyalah kesenangan. Kesenangan yang membuat saya dan Maika saling ketergantungan.

Agar produksi ASI banyak dan tetap terjaga, berikut ini yang saya lakukan:

  1. Konsumsi makanan bergizi (cukup karbo, protein, sayur, buah)
  2. Minum susu (susu sapi atau kacang) bisa juga ngemil kacang-kacangan (dengan catatan tidak menimbulkan alergi untuk anak)
  3. Istirahat cukup (usahakan tidur minimal 6 jam sehari)
  4. Usahakan untuk tidak mudah stress, karena pikiran kusut, capek, dan stress bisa menurunkan produksi susu.
  5. Berpikir positif dan usahakan perbanyak tertawa dan penuhi diri dengan perasaan senang
  6. Buat ibu bekerja seperti saya, lakukan managemen pompa. Atur waktu pompa agar produksi ASI tetap lancar. Idealnya memang pompa 2-3 jam sekali sesuai waktu menyusui anak, tapi biasanya saya sesuaikan dengan kondisi dan aktivitas selama jam kerja. Selama pompa jangan lupa sambil pijat-pijat payudara.
  7. Segera menyusui langsung selagi bisa. Sebelum berangkat kerja, sepulang kantor, dan sepanjang malam sebanyak yang diinginkan anak kita.

Perjalanan menyusui Maika ini tidak akan berhasil tanpa peran suami yang sangat koperatif. Meskipun dari sorot matanya saya tahu sebenarnya dia lelah dan butuh istirahat, tapi dia tidak pernah mengeluh bahkan selalu bertanya apa lagikah yang kami butuhkan. Dengan sabar selalu mendampingi, menyemangati, dan menyiapkan keperluan selama menyusui dan memompa ASI di tengah malam atau dini hari dari awal sampai hari ini. Mungkin itu caranya mengungkapkan cinta kepada kami. Terima kasih, Papi. Yes, you are the best!

 

 

Pengalaman IMD dan lotus birth

Hari ini Maika genap berusia 5 bulan. Alhamdulillah Maika tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat, pintar, ceria, manis, dan baik sama Ibu dan Bapaknya. Semakin hari kami semakin dibuat jatuh cinta dan terpesona oleh tingkah polanya.

Saya sangat bangga sekaligus takjub melihatnya tumbuh dan berkembang setiap hari. Akhirnya saya memahami bagaimana perasaan orang tua yang begitu mengagumi anaknya dengan penuh kasih. Senyum dan tawanya adalah ketulusan murni hadiah dari Tuhan untuk kita.

Halo Om, Tante…

Dari awal kehamilan, saya dan suami bertekad untuk menyiapkan segala sesuatunya dalam menyambut kehadiran anak kami. Mungkin juga karena anak pertama, sehingga membuat kami merasa haus untuk lebih banyak belajar.

Bahkan kami pun membuat rencana persalinan (birth plan) yang dituangkan pada perjanjian hitam di atas putih sebagai persiapan ketika melahirkan.

Salah satu yang kami masukkan dalam birth plan adalah tentang keinginan untuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan penundaan pemotongan tali pusat (delayed umbilical cord clamping). Alhamdulillah keduanya bisa terlaksana dengan bantuan bidan-bidan yang mendampingi saya dari sebelum persalinan sampai dengan sekarang.

Pengalaman IMD

Segera setelah dibersihkan seadanya oleh bidan, Maika langsung diberikan kepada saya untuk IMD. IMD diyakini sebagai moment yang sangat baik dilakukan oleh ibu dan bayi setelah bayi terlahir ke dunia. Begitu banyak manfaatnya, bukan hanya untuk bayi melainkan juga untuk ibu. Salah satunya adalah mencegah pendarahan sang ibu.

Saya melakukan IMD bersamaan dengan melahirkan plasenta. Atau bahasa yang dijelaskan oleh bidan adalah plasenta saya lahir dengan sponton segera setelah bayi dilahirkan. Salah satunya adalah karena pengaruh dari hormon-hormon cinta yang keluar secara alami dari tubuh ibu ketika bersentuhan dengan bayi. IMD adalah moment skin to skin pertama kali saya dan bayi saya.

Sesaat setelah melahirkan, langsung belajar IMD.

Ada begitu banyak emosi, cinta, haru, dan rasa puas serta bahagia yang membuncah. Ketika bayi saya pertama kali mencoba menggerakkan badan dan kaki kecilnya di atas perut dan berusaha untuk mencari puting sayang. Rupanya gerakan-gerakan kecil tersebutlah yang membantu untuk mencegah terjadinya pendarahan setelah melahirkan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk IMD? Sampai dirasa cukup atau yang paling mudah biasanya dilihat dari sampai bayi kita bisa menemukan puting ibu dan menghisapnya. Durasi waktunya berbeda-beda pada setiap ibu dan bayinya. Ada yang hanya perlu beberapa menit saja, ada pula yang perlu waktu hitungan jam bahkan lebih. Saya dan bayi saya belajar  IMD selama 3 hari. Pada hari ketiga itulah Maika baru berhasil menghisap dengan baik dan ASI saya pun akhirnya keluar.

Kenapa lotus birth?

Pengalaman penundaan pemotongan tali pusat Maika memang tidak bisa lepas dari pengalaman kami melakukan IMD. Semacam kejadian sebab-akibat-sehingga gitu..

Rupanya Maika butuh waktu 3 hari untuk belajar menyusu agar bisa latch on dengan sempurna. Dari awal memang saya dan suami berencana melakukan penundaan pemotongan tali pusat selama beberapa jam saja, sampai bayi kami dirasa cukup tenang dan proses IMD selesai.

Namun apa daya, proses IMD ternyata tidak semulus yang kami bayangkan. Maika kesulitan menjangkau payu dara saya yang kanan maupun yang kiri. Bahkan setelah 4 jam lebih Maika diletakkan tepat di atas puting, dia tidak mau menghisapnya. Mungkin ASI saya belum siap, mungkin juga Maika belum mau menyusu.

Maika dan plasentanya, hari kedua.

Karena malam sudah larut, hampir jam 12 malam. Maka saya dan suami memutuskan untuk menunda pemotongan tali pusat lebih lama lagi sampai dengan besok pagi. Dengan harapan, Besok pagi Maika sudah bisa mendapatkan ASI. Besoknya, payudara saya bengkak, ASI belum keluar, dan Maika masih belum bisa lacth on.

Khawatir Maika tidak mendapatkan asupan, kami meminta bidan untuk melakukan lotus birth. Alasannya sederhana, asupan nutrisi Maika selama 9 bulan di dalam perut didapat dari plasentanya. Mungkin, Maika masih ingin melanjutkan kebersamaannya beberapa hari lagi dengan si plasenta.

Dengan persiapan seadanya, bidan meminta kami menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menjaga plasenta tetap steril dan bersih. Wadah yang terbuat dari tanah atau kayu, garam kasar, dan rempah-rempahan seperti kunyit, cengkeh, dan kayu manis. Selama 3 hari pertama tersebut Maika dan plasentanya setiap hari mandi 2 kali sehari bergantian di  bantu bidan.

Hari demi hari terlewati, Maika sudah aman dengan plasentanya. Sambil terus menerus belajar IMD, latihan menyusu, pijatan-demi pijatan laktasi -yang sakitnya sungguh saya ingin pingsan saja-. Tiga hari setelah melahirkan terasa penyiksaan secara fisik maupun mental. Sungguh memberikan ASI amat sangat membutuhkan kebulatan tekad dan harus dijalankan dengan keras kepala.

Plasenta Maika yang sudah ditaburi garam dan rempah.

Memasuki hari keempat, tali pusat Maika mulai mengering dan keras. Menurut bidan Intan yang menjaga kami, sepertinya sudah tidak ada nutrisi yang dialirkan lagi dari plasenta ke perut Maika.

Rupanya pada hari yang sama, Maika tiba-tiba berhasil menghisap puting saya dan ASI langsung membuncah. Saya langsung menangis lega, muncul perasaan luar biasa nikmat ketika pertama kali Maika menghisap ASI dengan sekuat tenaga sambil terengah-engah.

Karena ASI saya sudah lancar dan Maika sudah bsia menyusu dengan sempurna, kami berkonsultasi dengan bidan dan memutuskan untuk memotong tali pusat Maika.

Terima kasih plasenta, tugasmu kini sudah tuntas. Kini, biarkan sang payudara melanjutkan tugasmu untuk  memberikan nutrisi terbaik bernama ASI buat Maika.

 

Cerita melahirkan dari rumah

Mendekati hari perkiraan lahir (HPL) yang diprediksikan dokter, saya semakin bersemangat. Rasanya campur aduk antara senang, tidak sabar, cemas, terharu, dan yang jelas semakin mudah lelah karena kondisi perut yang semakin membesar. Maklum, total kenaikan berat badan selama hamil adalah tidak kurang dari 15 kg, dengan berat badan bayi 3,1 kg ketika lahir.

Hari yang dinanti-nanti pun tiba,  Minggu, 12 Maret 2017 pukul 02:30 dini hari, akhirnya Maika memberikan tanda cinta lewat KPD (ketuban pecah dini) mengisyaratkan bahwa dia ingin segera dilahirkan. Dengan penuh suka cita saya langsung memanggil suami dan memintanya untuk menghubungi bidan. Jauh-jauh hari sebelumnya memang kami sudah mempersiapkan berbagai hal untuk persiapan melahirkan di rumah dibantu oleh bidan.

Setelah menghubungi bidan, kami pun berpelukan penuh haru, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Sambil menunggu bidan, suami menyarankan agar saya kembali  tidur dan beristirahat. Satu jam kemudian bidan datang, saat itu saya tidak merasakan kontraksi sama sekali. Padahal menurut bidan saya sudah pembukaan 3.

Belum ada kontraksi, induksi alami berbagai cara

Pagi harinya sekitar pkl 06:30 bidan kembali melakukan pengecekan dalam, belum ada tambahan pembukaan dan gelombang cinta yang dibilang menyakitkan itu pun belum kunjung datang. Dikarenakan air ketuban yang pecah cukup banyak, saya disarankan untuk tidak melakukan banyak gerakan. Induksi alami dilakukan dengan berpelukan dan bermanja-manjaan dengan suami, minum jus kiwi+nanas, dan dipijat pada bagian telapak kaki. Saya berusaha untuk berpikir positif dan tetap tenang, melakukan hypnobirthing dengan mendengarkan aplikasi audio kontraksi nyaman lewat handphone.

Menunggu mulas. Minum jus kiwi+nanas sambil main peanut ball karena ketuban pecah dini.

Hal ini kami lakukan karena memang dari awal kami ingin melakukan segala sesuatunya sealami mungkin, termasuk menghindari pemberian obat-obatan untuk induksi. Saya percaya bahwa satu tindakan intervensi medis akan memicu tindakan berikutnya. Setidaknya demikian cerita yang saya dengar dari pengalaman teman-teman sendiri.

Setelah dibantu dengan pijat akupresur oleh bidan dan suami, akhirnya kontraksi pun mulai muncul pada pkl 13:00 WIB. Awalnya tidak begitu sakit, setelah diperbolehkan bergoyang-goyang pinggul di atas gymball untuk menambah bukaan, kontraksipun bertambah intens setelah lewat waktu ashar mulai pkl 15:30 WIB. Menjelang waktu magrib bidan mengatakan sudah pembukaan 7 dan saya dibimbing masuk ke dalam kolam yang sudah diisi air hangat.

Menunggu crowning

Adzan magrib berkumandang, gelombang cinta pun semakin dahsyat. Menurut bidan bukaannya sudah lengkap yang ditandai dengan semakin banyaknya lendir darah yang muncul ke permukaan kolam. Para bidan masih memandu saya untuk mengatur nafas sambil menunggu proses crowning – dimana kepala bayi sudah terlihat dan bisa dipegang-.

Sambil terus berusaha mengatur nafas dan berganti posisi, rasa mulas itu akhirnya muncul juga. Saya berusaha mengubah posisi dari duduk ke posisi merangkul tepi kolam plastik dengan lutut menempel di dasar kolam supaya lebih nyaman. Niatnya saya tidak mau mengejan untuk menghindari robekan pada perenium. Ternyata rasa mulas itu tak tertahankan, tak kuasa akhirnya saya mengejan. Dengan sekali tarikan nafas yang dihembuskan sekuat tenaga, seketika itu pula para bidan terkejut menyadari kepala bayi sudah keluar.

Dalam kondisi kebingungan saya bertanya harus bagaimana, perlukah mengubah posisi menungging ke posisi lainnya untuk mengeluarkan bagian badan bayi? Karena semua orang di ruangan termasuk saya tidak menyangka proses crowning berlangsung secepat itu, mengingat ini adalah kelahiran anak pertama. Dalam sesi kelas persiapan persalinan yang pernah kami ikuti sebelumnya, bidan sudah pernah memberitahukan bahwa setelah pembukaan lengkap, masih harus menunggu fase crowning sebelum bayi benar-benar dilahirkan dengan  utuh. Pada kelahiran anak pertama, proses crowning bisa berlangsung antara 1 sampai dengan 4 jam.

Melahirkan di air, benarkah tidak sakit?

Tepat pada pukul 18:45 WIB, suara tangis Maika pun terdengar di seluruh rumah. Rupanya bayi saya memilih untuk dilahirkan di dalam air dengan posisi saya menungging. Maika terlahir sempurna dengan berat 3.140 gram dan panjang 48 cm, didampingi oleh ayahnya dan dibantu oleh para bidan.

Lalu apakah benar melahirkan di dalam air itu tidak sakit? Bayangkan saja ketika badan kita terasa sakit atau pegal lalu memutuskan untuk berendam air hangat, bagaimana rasanya? Bukankah terasa nyaman dan lebih rileks? tapi apakah kemudian sakitnya langsung hilang? Tentu saja tidak.

Dari awal memang sudah saya niatkan bahwa penggunaan kolam air hangat dimaksudkan untuk rileksasi dan meredakan nyeri kontraksi. Perihal bayi mau lahir di air atau di atas kasur saya serahkan sepenuhnya kepada bayi saya. Tugas saya hanya membantunya memberikan ruang dan rasa nyaman agar dia bisa mendorong dirinya terlahir ke dunia. Dan kenyataannya kolam air hangat sangat membantu saya lebih rileks dalam menghadapi nyeri kontraksi.

Sekuat tenaga fokus mengatur nafas menyambut kontraksi demi kontraksi

Satu hal yang selalu saya ingat adalah bahwa setiap kali kontraksi datang artinya bayi saya sedang berjuang untuk keluar. Semakin intens gelombang cinta itu menyapa, semakin cepat saya akan bertemu dengan bayi saya. Maka setiap kali rasa sakit itu datang, saya merasa bersyukur dan menyambutnya dengan segera menata nafas. Saya membuktikan bahwa kekuatan pikiran adalah kunci keberhasilan.

Betapa bersyukurnya saya yang diberikan kemudahan dan kelancaran dalam melewati proses persalinan. Meskipun beberapa hari sebelumnya saya sempat cemas tidak karuan, karena dokter sudah memperingatkan resiko pendarahan jika saya ingin melahirkan dengan normal terlebih melahirkan di rumah. Hasil lab terakhir menunjukkan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah hanya 9,1. Sedangkan menurut dokter, idealnya Hb minimal adalah 12 jika ingin melahirkan normal.

Setelah berdiskusi dengan suami dan berkonsultasi dengan bidan Yessi serta  Bidan Yuli yang akan membantu proses persalinan, akhirnya saya mendapatkan kembali keyakinan bisa melahirkan di rumah dengan normal. Saya pun diresepkan beberapa vitamin dan asupan yang harus dikonsumsi setiap hari agar bisa membantu meningkatkan kadar Hb dengan cepat.  Sekali lagi saya membuktikan bahwa usaha yang disertai dengan keyakinan dan kekuatan pikiran akan membuahkan hasil seperti yang kita harapkan.

Soal gentle birth dan melahirkan di rumah

Hari ini tepat tiga bulan yang lalu, pada 12 Maret 2017, Maika memilih sebagai hari kelahirannya di usia kandungan 38 minggu 4 hari. Lebih cepat 10 hari dari perkiraan dokter memang, tapi persis seperti yang saya harapkan. Hari yang kami pilih dan sepakati melalui afirmasi yang selalu saya bisikkan selama kehamilan. Masih terekam dengan jelas di ingatan saya bagaimana proses persalinan Maika sesuai dengan harapan saya dan suami.

Sebuah proses persalinan alami yang ramah jiwa, lembut, lancar, penuh keintiman, minim intervensi medis, dan yang terpenting dilakukan di rumah sendiri.

Soal istilah gentle birth

Pertama kali saya mengenal istilah gentle birth dari sahabat saya yang baru saja melahirkan. Sewaktu dia tahu mengenai kabar kehamilan saya, dia bercerita tentang bagaimana pengalaman proses persalinannya yang nyaman, lancar, dan lembut meskipun dilakukan di rumah sakit di kota Balikpapan. Didorong oleh rasa penasaran yang didominasi oleh rasa takut saat melahirkan nanti, akhirnya saya pun mencari tahu tentang gentle birth. Beruntung, pada usia kehamilan 20 minggu saya bisa mengikuti kelas privat yang diadakan oleh Bidan Yessi Aprilia, praktisi gentle birth dari bidankita.com.

Sama seperti kebanyakan orang yang salah kaprah mengartikan gentle birth, awalnya saya mengira gentle birth adalah metode lahiran di air.  Saya sendiri pernah melihat secara langsung proses melahirkan dengan metode water birth yang tenang dan tanpa intervensi medis, jauh sebelum menikah -yang kini baru saya sadari bahwa yang saya saksikan itu adalah sebuah proses gentle birth-. Waktu itu saya sedang melakukan syuting film dokumentasi tentang Ibu Robin Liem – pemenang CNN Heroes 2011- di klinik Bumi Sehat beliau yang berlokasi di Nyuh Kuning, Ubud Bali.

Setelah mengikuti sesi kelas dengan Bidan Yessie, saya semakin paham bahwa ternyata gentle birth lebih dari sekedar metode, melainkan sebuah cara pandang yang kita yakini. Gentle birth adalah tentang perasaaan menerima, mensyukuri, dan menikmati setiap prosesnya. Gentle birth berarti memahami dan sadar apa yang terbaik buat kita dalam menjalankan proses kehamilan, melahirkan, sampai dengan membesarkan anak.

 

Apakah gentle birth harus melahirkan di rumah dan dengan proses normal?

Tentu saja tidak. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa teman saya yang mengenalkan istilah gentle birth untuk pertama kalinya, melahirkan gentle birth di rumah sakit dengan normal. Ada pula teman-teman saya yang bergabung di milis Keluarga Gentle Birth yang melahirkan dengan c-section dan lembut. Apapun pilihannya, yang terpenting adalah kita memilihnya dengan sadar dan yakin bahwa inilah pilihan terbaik yang membuat kita merasa nyaman.

Esensi dari gentle birth adalah memberdayakan diri, terus belajar, dan mensyukurinya. Sementara water birth, home birth, hypnobirthing, yoga, lotus birth, dan lainnya hanyalah cara-cara yang dipilih untuk membantu dalam menjalankan prosesnya. Apapun istilahnya yang lebih penting adalah bahwa kita tahu bahagimana menjalankan setiap proses kehamilan yang nyaman dan terbaik buat kita.

Saya percaya bahwa melahirkan adalah proses spiritual luar biasa bagi seorang wanita. Tanpa pandang bulu, apakah dia melahirkan dengan proses normal ataupun lewat prosedur operasi. Melahirkan tetaplah melahirkan, yang akan mengubah seorang wanita menjadi ibu. Bagaimanapun prosesnya ada 2 nyawa yang sedang diperjuangkan. Selamat dan sehat untuk keduanya adalah yang terpenting. Namun terkadang apa yang mampu kita lakukan melampau apa yang kita pikirkan. Yang diperlukan hanyalah keyakinan dan usaha sepenuh hati. Hasilnya, biarlah Tuhan dan semesta yang menentukan.

Moment skin to skin pertama Maika dengan bapaknya, sesaat setelah belajar IMD :*

Kenapa saya memilih untuk melahirkan di rumah? Karena saya percaya bahwa rumah adalah tempat yang paling nyaman untuk melahirkan. Entah kenapa saya selalu merasa cemas dan terintimidasi jika mendengar kata rumah sakit. Karena itulah saya memilih untuk melahirkan di rumah dengan pertimbangan kenyamanan dan menghindari intervensi medis yang tidak diperlukan.

Dalam gentle birth diyakini bahwa proses hamil, melahirkan, dan membesarkan anak adalah sebuah proses alami yang sudah terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Oleh karenanya kita harus memberdayakan kemampuan diri selama menjalankan segala prosesnya dan mensyukurinya.

Alhamdulillah semua upaya pemberdayaan diri yang saya dan suami lakukan dari awal kehamilan pun membuahkan hasil, melebihi yang bisa kami bayangkan. Maika lahir ketika saya sedang relaksasi di dalam kolam air hangat dengan lembut dan spontan.

Cerita proses persalinan Maika, saya ceritakan dalam postingan ini.

Day care atau nanny?

“Lebih penting ngerjain yang mana dulu antara nyuci baju, nyapu, ngepel dan beres-beres rumah, nyuci steril botol susu, pompa, atau mandi sekalian cuci rambut karena badan udah berasa lengket basah dan bau susu?” Baru juga mikir buat nentuin prioritas yang mana yang harus dikerjakan lebih dulu, eh anaknya sudah keburu bangun lagi. Yang artinya mari kita lupakan sederet daftar pekerjaan di atas dan kembali fokus pada anak kita. Betul begitu ibi-ibu? hehe

Ya kira-kira begitulah problema ibu baru yang masih menjaga anak tanpa bantuan nanny atau pengasuh. Jadi selama cuti melahirkan, kebetulan saya dan suami memang pegang sendiri, meskipun sesekali dibantu oleh siapapun orang rumah yang available dan berbaik hati mau bergantian menjaga Maika.

Kalo dipikir-pikir ternyata teman-teman kantor dan ibu-ibu lainnya yang mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan orang lain itu bener-bener hebat yah. Bener-bener tangguh! Percaya atau tidak, meskipun seharian ada di rumah tapi to-do-list yang harus dikerjakan mengalahkan to-do-list level manager di kantor kayanya. Hahaa

Kembali kepada soal pilihan menitipkan anak kepada pengasuh atau di tempat day care, yang mana yang lebih baik? Sebenarnya menjawab pertanyaan tersebut sudah saya pikirkan dari masih hamil. Saya sudah banyak berdiskusi dengan taman-teman di kantor yang lebih dulu memiliki anak dan berpengalaman dengan masalah tersebut.

Ada yang menggunakan bantuan pengasuh ada juga yang lebih percaya jika anaknya dititipkan di tempat penitipan anak atau day care karena dikelola oleh orang-orang yang sudah terlatih. Menurut saya sebenarnya itu sangat tergantung dengan kebutuhan setiap orang. Setiap orang tua pasti punya pilihan dengann pertimbangan terbaiknya. Lalu saya pilih yang mana?

Perkara memilih pengasuh anak ini memang gampang-gampang sulit. Sebenarnya di awal-awal sempet berpikir untuk menitipkan Maika ke tempat penitipan anak. Tapi setelah dipikir-pikir lagi dan sudah merasakan kehadiran Maika selama 2 bulan ini, kami jadi merasa perlu bantuan orang ketiga di dalam rumah yang bisa dipercaya dan diandalkan untuk menjaga Maika. Akhirnya saya dan suami sepakat untuk menggunakan bantuan nanny atau baby sitter yang sudah berpengalaman dan memiliki pengetahuan dalam merawat dan menjaga bayi.

Menurut saya berikut adalah keuntungan dan kekurangan menitipkan anak pada pengasuh di rumah atau dititipkan di day care:

Nanny :

Keuntungan : karena tinggal di rumah yang sama jadi bisa stand by untuk diminta bantuan 24 jam dalam sehari, bisa dengan leluasa mengajarkan nanny sesuai arahan kita dengan kata lain peraturan dan kontrol ada di tangan kita.

Kekurangan : Karena ada nanny kita jadi keenakan dan malas. Jangan sampai anak kita lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan kita. Kemungkinan terjadinya drama dan konflik lebih bessar karena tinggal dalam satu rumah. Sebisa mungkin pilih pengasuh yang sabar dan menyukai pekerjaannya.

Day care :

Keuntungan : peraturan dan sistem sudah ada, jadi siapapun yang menjaga sudah diedukasi dengan baik. Lebih praktis dan tidak perlu terikat secara emosional. Tidak ada drama pengasuh yang tidak perlu, karena tidak ada ikatan emosional baik antara anak dengan pengasuh maupun orang tua dengan pengasuh.

Kekurangan : Karena di tempat penitipan 1 orang pengasuh bisa memegang beberapa anak, jadi fokusnya terbagi bukan hanya kepada anak kita. Kontaminasi penyakit seperti flu dan batuk lebih tinggi karena jika 1 anak sakit, sangat mungkin untuk menularkannya kepada anak-anak lain.

Masing-masing memang ada plus dan minusnya, pada akhirnya yang manapun pilihannya dikembalikan lagi dengan kenyamanan kita sebagai orang tua. Karena harapan setiap orang tua manapun adalah memberikan yang terbaik buat anak kita bukan?

Berbicara soal nanny, kami pernah punya pengalaman kurang menyenangkan sekaligus lucu. Ceritanya saya dan suami meminta bantuan penyalur dari daerah yang direkomendasikan oleh teman untuk mencari calon pengasuh dengan kriteria; sudah punya pengalaman merawat bayi (anak sendiri atau anak orang lain), wanita usia maksimal 40 tahun (supaya masih kuat gendong-gendong), dan bisa diajak pergi-pergi kalau weekend.

Setelah 3 mingguan menunggu kami diberi kabar bahwa si calon pengasih akan diantar ke rumah munggu depan. Setelah tiba di rumah 2 hari kami merasa ada yang aneh dan tidak beres dengan si pengasuh. Empat hari kemudian akhirnya kami menghubungi penyalur dan meminta untuk menjemputnya. Kenapa? tanpa mengurangi rasa hormat kepada para ART dan pengasuh lainnya, yang ini alasannya memang agak konyol sih.

Ternyata si calon pengasuh tidak bisa berbahasa Indonesia. Pantas saja di awal kami merasa ada yang aneh, ketika 2 hari pertama kami coba ajak ngobrol dan berkomunikasi, responnya cuma berupa anggukan dan gumaman.  Masalah berikutnya adalah ternyata si calon pengasuh tidak bisa menggendong bayi karena pernah kecelakaan motor dan masih trauma cidera pada bagian lengannya. Bisa dibayangkan bagaimana punya pengasuh bayi yang tidak bisa menggendong bayi?

Belajar dari pengalaman tersebut akhirnya saya dan suami mantap memutuskan untuk mengunakan pengasuh yang sudah berpengalaman dengan seleksi yang jelas. Karena selama kami bekerja (total lebih dari 8 jam dalam sehari) anak kami akan bersama pengasuhnya, maka saya dan suami bertanggung jawab memberikan pengasuh yang baik dan bisa diteladani.

 

 

 

Patah hati bernama baby blues

Minggu pertama setelah melahirkan adalah masa terberat bagi saya baik secara fisik maupun emosi. Perasaan gagal menjadi ibu yang baik untuk bayi yang baru saya lahirkan. Jenis perasaan terburuk yang pernah saya rasakan sepanjang hidup.

Bagaimana tidak? Perasaan marah, sedih, takut, dan tidak berdaya menggerogoti akal sehat hingga menembus kewarasan saya. Rasa lelah dan nyeri yang begitu hebat pada payudara yang bengkak karena ASI tak kunjung keluar. Pijat laktasi yang tidak pernah disangka akan lebih menyakitkan dari pada proses melahirkan itu sendiri. Belum lagi soal jahitan perenium yang bermasalah hingga harus dijahit ulang 2 kali.

Belum pernah saya merasakan ketakutan semacam ini. Inikah yang namanya baby blues? Trauma pasca-melahirkan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan karena saya yakin tidak akan melewatinya. Namun kenyataan berkehendak lain, mungkin saya terlalu sombong dan merasa kuat. Ternyata saya masih harus banyak belajar, terutama belajar untuk bersabar dan menerima. Belajar untuk lebih memberdayakan diri dan ikhlas.

Beruntung saya didampingi oleh orang-orang hebat yang tidak henti-hentinya memberikan semangat dan dukungannya kepada saya. Hormat dan cinta saya buat suami, Bidan-bidan yang mendampingi, dan keluarga yang melakukan berbagai upaya untuk membuat saya merasa lebih baik. Tuhan mencintai saya melalui tangan-tangan dan cinta mereka semua.

Saya mulai membuka diri untuk ditemui oleh teman-teman pada minggu ke tiga. Ternyata bertemu dengan teman-teman bisa memberikan semangat dan perasaan nyaman. Perlahan dan pasti saya pun mulai pulih. Sudah bisa tertawa dan kembali menjalankan rutinitas tanpa dihantui perasaan takut dan khawatir yang berlebihan. Lega rasanya mulai bisa menerima  diri sendiri lagi. Ada rasa pasrah dan mulai menerima kondisi yang sedang dihadapi.

Belajar dari pengalaman tersebut, memberdayakan diri secara fisik, mental, dan emosi memang sangat penting. Yang tidak kalah penting juga dukungan orang-orang di sekitar, terutama dukungan suami yang juga harus memberdayakan diri. Terkadang jika hanya kita sendiri, kita hanya melihat hal-hal yang dirasa sangat penting dan besarannya saja. Padahal masih banyak hal-hal yang dianggap sepele tapi krusial yang luput dari perhatian kita.

Buat ibu-ibu di luar sana yang sedang mempersiapkan kelahiran buah hatinya, semoga punya kesempatan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar tidak terkena trauma pascamelahirkan. Buat yang pernah mengalami atau masih mengalami baby blues, kalian tidak sendiri. Jika diperlukan jangan ragu untuk meminta bantuan profesional.

Karena belajar menerima dan melepaskan membutuhkan usaha lebih dari satu orang.

Belajar presisten mencintai diri sendiri

Pernah gak ada yang nanya, “Do you love your self? Or how much do you love your self?

Kalau dulu ada yang nanya  begitu mungkin respon saya “He, apaan sih? Maksudnya seberapa mengagumi diri sendiri gitu? atau mau ngajakin banyak-banyakan foto selfie yah?”

No! Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan selfie dan narsis. Mencintai diri sendiri tidak sama dengan mengekspresikan kenarsisan lewat foto ataupun memiliki rasa percaya diri yang terlampau tinggi. Mencintai diri sendiri adalah tentang rasa menerima dan perasaan penuh syukur atas keberadaan kita di dunia ini yang direfleksikan lewat perbuatan sehari-hari.

Hmm.. berat amat yah hidup gue? Iyah, kelihatannya memang agak-agak kurang kerjaan gak penting dan berat gitu. Makanya sering terabaikan. Kalau ada yang pernah ikutan seminar-seminar motivasi atau pelatihan self healing pasti sering muncul tuh pertanyaan tentang seberapa kita mencintai diri kita. Kenapa? Katanya sih karena dalam ilmu dan bidang apapun, mencintai diri sendiri adalah modal utama yang memotivasi untuk mencapai apapun yang dicita-citakan. Ingin sukses dalam karir atau ingin jadi pengusaha milyarder? Ingin jadi model atau punya badan kaya Kendal Jenner? Ingin move-on dari mantan atau ingin mengejar kekasih impian? Semuanya bisa, kuncinya diawali dengan mencintai diri sendiri dulu. Hebatkan?

Bahkan dalam teori romansa pun dikatakan bahwa kita tidak akan bisa mencintai orang lain sebelum bisa mencintai diri sendiri. Iyah, betul begitu nyatanya.

Lalu kenapa harus belajar presisten mencintai diri sendiri? Apa bedanya presisten dengan konsisten?

Pertama, mencintai diri sendiri saja bukan perkara mudah, apalagi  belajar presisten.  Kedua, presisten bukanlah sebuah keharusan, tapi sebuah komitmen suka rela atas kesadaran dan keinginan sendiri. Konsisten adalah suatu kondisi dimana kita berupaya untuk tetap taat dalam melakukan suatu hal yang sama terus menerus, sedangkan presisten bukan sekedar tetap taat melainkan berusaha untuk memperbaiki dari segi kualitas setiap harinya. Dengan kata lain ada inisiatif mengevaluasi dengan suka rela dan disertai dengan upaya memperbaikinya.

love your self

Sebenarnya postingan kali ini masih berhubungan dengan tulisan saya di awal tahun tentang resolusi tahun baru dan upaya menjadi (kurus) sehat. Suatu hari ketika saya sedang melihat-lihat buku di deretan rak kesehatan dan diet di Gramedia Pejatenn Village, saya menemukan buku dengan judul “Happy Eating Go Langsing” Setelah membaca deskripsi pada bagian belakang buku dan prasangka dalam kepala “Happy eating go langsing, Ha? Emang bisa?” akhirnya rasa penasaran saya membawa serta buku tersebut ke meja kasir dan membawanya pulang.

Weekend itu langsung saya habiskan dengan membaca buku karya Mbak Nunny Hersianna tersebut. Selesai membaca saya malah tambah penasaran dan mencari tahu lebih lanjut di situsnya yang beralamat di golangsing.com. Tidak lama dari situ akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti coaching yang ditawarkan. Setelah 2 hari mengikuti coaching Happy Eating Go Langsing (HEGL), saya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Iyah, jatuh cinta pada diri sendiri. Layaknya orang yang jatuh cinta, tak bosan-bosan saya bercerita kepada suami tentang pengalaman yang saya rasakan selama mengikuti pelatihan.

Saya menemukan cara bagaimana belajar presisten mencintai diri sendiri. Bahkan saya merasa bahwa HEGL bukan sekedar tempat untuk belajar melangsing, melainkan menemukan formula kebahagiaan hidup. Mungkin memang terdengar berlebihan, tapi lewat HEGL selama dua bulanan ini saya merasakan perubahan positifnya :

  • Entah kenapa somehow terlalu banyak hal yang patut disukuri dalam sehari.
  • Berdamai dengan emosi dan makanan. Di HEGL diajarkan bahwa semua makanan itu baik, namun pilihlah dengan bijak mana yang dibutuhkan oleh tubuh.
  • Meninggalkan mindset diet-diet instan yang sifatnya cuma sementara. Fokus pada memperbaiki kualitas kesehatan setiap harinya, langsing itu bonus dan yang paling penting menikmati prosesnya.
  • Suka banget bergerak, hampir setiap hari berolah raga dengan suka rela dan bahagia.
  • Emosi jadi lebih stabil dan lebih sabar dalam menghadapi masalah (yang ini testimoni dari suami sih. hehe)
  • Perasaan lega dan senang karena tidak terbebani dengan larangan-larangan makanan tertentu.
  • Motivasi dari group support yang juga alumni pelatihan HEGL. Pengalaman mereka sungguhlah luar biasa. Ingin rasanya di usia 50an masih memiliki semangat dan lebih mencintai diri sendiri.

So, bagaimana caranya belajar mencintai diri sendiri dengan presisten?

Saya memilih mengawalinya dengan be grateful, eat mindfully, move more and be happy every day!

Muka sumringah sarapan buah naga setelah poking (power walking) dan mandi matahari :D
Muka sumringah sarapan buah naga setelah poking (power walking) dan mandi matahari 😀