Ingin hidup berkualitas dan seimbang

Kesadaran akan hidup berkualitas tentunya tidak muncul begitu saja. Beberapa tahun belakangan saya memang gemar merenungi apa yang kurang dalam hidup saya. Hampir setiap malam sebelum tidur, selama 15 Р30 menit, saya menyempatkan untuk melakukan kilas balik apa yang sudah saya lewati seharian ini. Kebanyakan urusan pekerjaan dan bagaimana saya berinteraksi dengan orang lain. Apakah hari ini saya sudah cukup berbuat baik atau malah  bikin kesal orang lain? Seringnya saya menyesali beberapa tindakan yang saya lakukan hari ini. Misalnya untuk hal-hal sepele seperti uring-uringan sama suami, bolong lari pagi, atau tidak memberikan tips kepada pelayan restaurant karena dirasa kurang ramah dan tidak helpfull.

Dari 15-20 menit itulah saya belajar untuk memahami, berempati, atau mengacuhkan jika memang dirasa perlu. Saya belajar bersikap dengan cara menyinkronisasi apa yang ada dalam pikiran saya agar sesuai dengan hati nurani sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Terdengar naif memang, tapi ya namanya juga hidup. Kita yang menjalankan, biarkan orang menilai.

Euforia resolusi tahun baru yang disebarkan teman-teman di Path, Facebook, dan media sosial lain pada malam pergantian tahun lalu, membuat saya berpikir apa yang ingin saya capai di tahun 2016. Saking banyaknya keinginan, butuh waktu beberapa hari sampai akhirnya saya menyusun harapan melalui tulisan ini. Paling tidak ada 3 point utama yang ingin saya fokuskan sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas hidup lebih baik di tahun ini dan seterusnya.

What i need to do is "focus".
“Fokus” – what i need to do.

 

Kualitas kesehatan yang baik

Melanjutkan unek-unek saya sebelumnya tentang resolusi tahun baru dan obsesi menjadi (kurus) sehat, memiliki hidup berkualitas merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Caranya? tentu saja dimulai dari yang paling dasar seperti nasehat yang selalu diberikan oleh para dokter dan pakar kesehatan; berusaha untuk mengontrol asupan makanan, olah raga rutin, dan memiliki waktu tidur yang cukup. Untuk point ini saya bikin program sendiri dan akan saya ceritakan lain kali.

Bebas dari masalah keuangan atau istilah populernya financial freedom

Coba saja punya masalah keuangan, jangankan makan yang enak-enak, tidur nyenyak saja sudah bagus. Gimana mau sehat kalo mau makan, mau tidur, mau ngapa-ngapain kepikiran masalah keuangan. Kenapa ini penting? Alasan pertama tentu saja karena saat ini sudah berkeluarga, sehingga harus bersiap sedia kapanpun diberikan anggota keluarga baru. Belum lagi pengeluaran bulanan, cicilan, dan biaya ini itu. Management keuangan rumah tangga yang baik diperlukan di sini. Maka punya rencana keuangan seperti mempersiapkan dana darurat dan berinvestasi harus jadi prioritas. Sebagai panduan bisa intip 5 Tips keuangan agar merdeka dan mandiri ini.

Lebih banyak kontribusi sosial

Kontribusi sosial atau istilah ketjenya giving back. Bukan apa-apa sih, ada yang bilang bisa membantu orang lain itu sebuah kemewahan. Meskipun tidak dalam bentuk materi, berkontribusi sosial bisa dilakukan dengan cara apapun. Misalnya membantu kesulitan keluarga, teman, atau mengikuti kegiatan volunteering. Mudah-mudahan tahun ini bisa aktif lagi dan rutin ikut kegiatan volunteering. Amiin. Kenapa ini perlu? buat saya pribadi giving back berarti mengasah empati dan bentuk syukur kepada Sang Pencipta. Di sisi lain juga sebagai penyeimbang antara ego dan realita.

Hidup itu memang harus dinikmati dan disyukuri, tapi bukan berarti tidak ada celah untuk diperbaiki. Seimbang adalah kuncinya. Memiliki kehidupan yang berkualitas dan seimbang tentunya harapan semua orang. Bagaimana proses buat mewujudkannya? Di situlah tantangannya bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *