Patah hati bernama baby blues

Minggu pertama setelah melahirkan adalah masa terberat bagi saya baik secara fisik maupun emosi. Perasaan gagal menjadi ibu yang baik untuk bayi yang baru saya lahirkan. Jenis perasaan terburuk yang pernah saya rasakan sepanjang hidup.

Bagaimana tidak? Perasaan marah, sedih, takut, dan tidak berdaya menggerogoti akal sehat hingga menembus kewarasan saya. Rasa lelah dan nyeri yang begitu hebat pada payudara yang bengkak karena ASI tak kunjung keluar. Pijat laktasi yang tidak pernah disangka akan lebih menyakitkan dari pada proses melahirkan itu sendiri. Belum lagi soal jahitan perenium yang bermasalah hingga harus dijahit ulang 2 kali.

Belum pernah saya merasakan ketakutan semacam ini. Inikah yang namanya baby blues? Trauma pasca-melahirkan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan karena saya yakin tidak akan melewatinya. Namun kenyataan berkehendak lain, mungkin saya terlalu sombong dan merasa kuat. Ternyata saya masih harus banyak belajar, terutama belajar untuk bersabar dan menerima. Belajar untuk lebih memberdayakan diri dan ikhlas.

Beruntung saya didampingi oleh orang-orang hebat yang tidak henti-hentinya memberikan semangat dan dukungannya kepada saya. Hormat dan cinta saya buat suami, Bidan-bidan yang mendampingi, dan keluarga yang melakukan berbagai upaya untuk membuat saya merasa lebih baik. Tuhan mencintai saya melalui tangan-tangan dan cinta mereka semua.

Saya mulai membuka diri untuk ditemui oleh teman-teman pada minggu ke tiga. Ternyata bertemu dengan teman-teman bisa memberikan semangat dan perasaan nyaman. Perlahan dan pasti saya pun mulai pulih. Sudah bisa tertawa dan kembali menjalankan rutinitas tanpa dihantui perasaan takut dan khawatir yang berlebihan. Lega rasanya mulai bisa menerima  diri sendiri lagi. Ada rasa pasrah dan mulai menerima kondisi yang sedang dihadapi.

Belajar dari pengalaman tersebut, memberdayakan diri secara fisik, mental, dan emosi memang sangat penting. Yang tidak kalah penting juga dukungan orang-orang di sekitar, terutama dukungan suami yang juga harus memberdayakan diri. Terkadang jika hanya kita sendiri, kita hanya melihat hal-hal yang dirasa sangat penting dan besarannya saja. Padahal masih banyak hal-hal yang dianggap sepele tapi krusial yang luput dari perhatian kita.

Buat ibu-ibu di luar sana yang sedang mempersiapkan kelahiran buah hatinya, semoga punya kesempatan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar tidak terkena trauma pascamelahirkan. Buat yang pernah mengalami atau masih mengalami baby blues, kalian tidak sendiri. Jika diperlukan jangan ragu untuk meminta bantuan profesional.

Karena belajar menerima dan melepaskan membutuhkan usaha lebih dari satu orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *