Pengalaman IMD dan lotus birth

Hari ini Maika genap berusia 5 bulan. Alhamdulillah Maika tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat, pintar, ceria, manis, dan baik sama Ibu dan Bapaknya. Semakin hari kami semakin dibuat jatuh cinta dan terpesona oleh tingkah polanya.

Saya sangat bangga sekaligus takjub melihatnya tumbuh dan berkembang setiap hari. Akhirnya saya memahami bagaimana perasaan orang tua yang begitu mengagumi anaknya dengan penuh kasih. Senyum dan tawanya adalah ketulusan murni hadiah dari Tuhan untuk kita.

Halo Om, Tante…

Dari awal kehamilan, saya dan suami bertekad untuk menyiapkan segala sesuatunya dalam menyambut kehadiran anak kami. Mungkin juga karena anak pertama, sehingga membuat kami merasa haus untuk lebih banyak belajar.

Bahkan kami pun membuat rencana persalinan (birth plan) yang dituangkan pada perjanjian hitam di atas putih sebagai persiapan ketika melahirkan.

Salah satu yang kami masukkan dalam birth plan adalah tentang keinginan untuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan penundaan pemotongan tali pusat (delayed umbilical cord clamping). Alhamdulillah keduanya bisa terlaksana dengan bantuan bidan-bidan yang mendampingi saya dari sebelum persalinan sampai dengan sekarang.

Pengalaman IMD

Segera setelah dibersihkan seadanya oleh bidan, Maika langsung diberikan kepada saya untuk IMD. IMD diyakini sebagai moment yang sangat baik dilakukan oleh ibu dan bayi setelah bayi terlahir ke dunia. Begitu banyak manfaatnya, bukan hanya untuk bayi melainkan juga untuk ibu. Salah satunya adalah mencegah pendarahan sang ibu.

Saya melakukan IMD bersamaan dengan melahirkan plasenta. Atau bahasa yang dijelaskan oleh bidan adalah plasenta saya lahir dengan sponton segera setelah bayi dilahirkan. Salah satunya adalah karena pengaruh dari hormon-hormon cinta yang keluar secara alami dari tubuh ibu ketika bersentuhan dengan bayi. IMD adalah moment skin to skin pertama kali saya dan bayi saya.

Sesaat setelah melahirkan, langsung belajar IMD.

Ada begitu banyak emosi, cinta, haru, dan rasa puas serta bahagia yang membuncah. Ketika bayi saya pertama kali mencoba menggerakkan badan dan kaki kecilnya di atas perut dan berusaha untuk mencari puting sayang. Rupanya gerakan-gerakan kecil tersebutlah yang membantu untuk mencegah terjadinya pendarahan setelah melahirkan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk IMD? Sampai dirasa cukup atau yang paling mudah biasanya dilihat dari sampai bayi kita bisa menemukan puting ibu dan menghisapnya. Durasi waktunya berbeda-beda pada setiap ibu dan bayinya. Ada yang hanya perlu beberapa menit saja, ada pula yang perlu waktu hitungan jam bahkan lebih. Saya dan bayi saya belajar  IMD selama 3 hari. Pada hari ketiga itulah Maika baru berhasil menghisap dengan baik dan ASI saya pun akhirnya keluar.

Kenapa lotus birth?

Pengalaman penundaan pemotongan tali pusat Maika memang tidak bisa lepas dari pengalaman kami melakukan IMD. Semacam kejadian sebab-akibat-sehingga gitu..

Rupanya Maika butuh waktu 3 hari untuk belajar menyusu agar bisa latch on dengan sempurna. Dari awal memang saya dan suami berencana melakukan penundaan pemotongan tali pusat selama beberapa jam saja, sampai bayi kami dirasa cukup tenang dan proses IMD selesai.

Namun apa daya, proses IMD ternyata tidak semulus yang kami bayangkan. Maika kesulitan menjangkau payu dara saya yang kanan maupun yang kiri. Bahkan setelah 4 jam lebih Maika diletakkan tepat di atas puting, dia tidak mau menghisapnya. Mungkin ASI saya belum siap, mungkin juga Maika belum mau menyusu.

Maika dan plasentanya, hari kedua.

Karena malam sudah larut, hampir jam 12 malam. Maka saya dan suami memutuskan untuk menunda pemotongan tali pusat lebih lama lagi sampai dengan besok pagi. Dengan harapan, Besok pagi Maika sudah bisa mendapatkan ASI. Besoknya, payudara saya bengkak, ASI belum keluar, dan Maika masih belum bisa lacth on.

Khawatir Maika tidak mendapatkan asupan, kami meminta bidan untuk melakukan lotus birth. Alasannya sederhana, asupan nutrisi Maika selama 9 bulan di dalam perut didapat dari plasentanya. Mungkin, Maika masih ingin melanjutkan kebersamaannya beberapa hari lagi dengan si plasenta.

Dengan persiapan seadanya, bidan meminta kami menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menjaga plasenta tetap steril dan bersih. Wadah yang terbuat dari tanah atau kayu, garam kasar, dan rempah-rempahan seperti kunyit, cengkeh, dan kayu manis. Selama 3 hari pertama tersebut Maika dan plasentanya setiap hari mandi 2 kali sehari bergantian di  bantu bidan.

Hari demi hari terlewati, Maika sudah aman dengan plasentanya. Sambil terus menerus belajar IMD, latihan menyusu, pijatan-demi pijatan laktasi -yang sakitnya sungguh saya ingin pingsan saja-. Tiga hari setelah melahirkan terasa penyiksaan secara fisik maupun mental. Sungguh memberikan ASI amat sangat membutuhkan kebulatan tekad dan harus dijalankan dengan keras kepala.

Plasenta Maika yang sudah ditaburi garam dan rempah.

Memasuki hari keempat, tali pusat Maika mulai mengering dan keras. Menurut bidan Intan yang menjaga kami, sepertinya sudah tidak ada nutrisi yang dialirkan lagi dari plasenta ke perut Maika.

Rupanya pada hari yang sama, Maika tiba-tiba berhasil menghisap puting saya dan ASI langsung membuncah. Saya langsung menangis lega, muncul perasaan luar biasa nikmat ketika pertama kali Maika menghisap ASI dengan sekuat tenaga sambil terengah-engah.

Karena ASI saya sudah lancar dan Maika sudah bsia menyusu dengan sempurna, kami berkonsultasi dengan bidan dan memutuskan untuk memotong tali pusat Maika.

Terima kasih plasenta, tugasmu kini sudah tuntas. Kini, biarkan sang payudara melanjutkan tugasmu untuk  memberikan nutrisi terbaik bernama ASI buat Maika.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *