Bersenang-senang dengan toilet training

Dulu, sebelum punya anak hampir tidak pernah terpikir ada istilah toilet training. Yang terlintas adalah pertanyaan “memang sesulit apa sih mengajarkan pipis di toilet kepada anak-anak?”

Setelah punya anak, soal toilet training ini ternyata jadi pe-er para orang tua yang lumayan merepotkan, tak terkecuali saya.

Awalnya saya tidak mau ambil pusing. Nanti saja dipikirkan jika anak saya sudah lewat 1 atau 2 tahun. Setelah dipikir-pikir, kok ya sebagai orang tua saya malas sekali. Padahal sudah diberi kepercayaan untuk merawat dan membesarkan anak.

Setelah mencari informasi di sana-sini, rupanya tidak ada aturan baku atau anjuran khusus dalam mengajarkan toilet training kepada anak. Masalah niat dan kesiapan saja. Tantangannya ada di ketelatenan.

Memasuki usia 6 bulan, anak saya sudah mulai belajar duduk. Sama dengan tanda kesiapan MPASI, saya merasa salah satu kesiapan dalam melakukan toilet training pun adalah ketika dia sudah bisa duduk tegak. Sehingga leher dan punggungnya sudah cukup menopang berat badannya.

Saat ini usia anak saya hampir 8 bulan. Saya tidak mau proses belajar ini terasa memberatkan buat anak saya maupun saya. Anggap saja sebagai salah satu arena bermain dan bagian dari rutinitas kami. Berhasil syukur, tidak pun dicoba lagi esok hari.

Sejak usianya 6 bulan sampai sekarang, jadilah sebisa mungkin kami membiasakan ritual BAB dan BAK dengan melepas popok dan duduk di toiletnya. Hasilnya, sering berhasil, tapi masih juga sering gagal. Biarlah, jangan terlalu dibawa pusing. Soal hasil nomor sekian, yang penting kami bersenang-senang karena ada saja hal lucu untuk ditertawakan.

Tujuan saya sebenarnya adalah mengajarkan dan mengenalkannya sedini mungkin. Cepat atau lambat dia bisa melakukannya, biarlah dia yang memilih. Yang paling penting jangan lupa bersenang-senang dengan prosesnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *