Merencanakan tujuan keuangan keluarga

Tahun ini adalah tahun ketiga pernikahan saya dan suami. Karena kami menikah pada awal tahun 2015, maka sinergi semua rencana keuangan biasanya kami lakukan bersamaan dengan moment tahun baru.

Sejak awal bahkan dari sebelum menikah, saya dan suami memang memilih untuk terbuka terhadap kondisi keuangan dan rencana financial setelah menikah. Karena kami percaya bahwa rumah tangga yang sehat dimulai dari keuangan keluarga yang sehat.

Kami memulai keseriusan terhadap rencana keuangan tersebut dalan komitmen perjanjian pra-nikah yang kami sepakati. Meskipun pada awalnya agak ragu karena berbicara kondisi keuangan apalagi membuat perjanjian tertulis sebelum menikah masih tabu dibicarakan di lingkungan kami.

Setelah menikah, kami melakukan pengecekan financial sekurang-kurangnya setiap satu tahun sekali dibantu oleh perencana keuangan profesional. Selama 2 tahun ini kami merasa sangat terbantu dengan perencanaan keuangan yang kami buat. Meskipun tentunya tidak semua berjalan lancar, paling tidak kami memiliki gambaran besar mengenai kondisi keuangan kami.

Kenapa repot-repot melakukan ini?Agar kami memiliki kualitas hidup yang baik tanpa mengorbankan kesenangan kami masing-masing. Lebih penting lagi ketika sudah memiliki anak, agar kami bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak nanti.

Tahun 2017 adalah tahun penuh syukur, Maika anak kami lahir sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kedua kami. Kini 9 bulan sudah berlalu sejak hari kelahirannya. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata betapa hari-hari setelah kelahirannya adalah pengalaman tanpa sesal.

Di sisi lain, saat ini banyak penyesuaian yang harus dilakukan tak terkecuali soal perencanaan keuangan keluarga. Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan yang terbaik untuk anak kita bukan? Salah satu yang menggelayuti pikiran kami adalah mampukah kami memberikan kualitas pendidikan yang baik untuknya?

Jujur saja betapa terkejutnya kami ketika googling di internet sungguh mahal nian biaya pendidikan untuk Gym anak, Play Group, Taman Kanak-Kanak, dan seterusnya itu. Apalagi saat ini kami tinggal di daerah Jakarta Selatan yang dikenal dengan biaya hidup lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya di Jakarta.

Dengan melakukan checkup keuangan dan mengatur fokus, harapannya kami bisa mengatur prioritas tujuan finansial keluarga. Beberapa perubahan yang menjadi catatan dalam perencanaan keuangan, saya coba rangkum dalam tulisan ini.

1. Mengatur arus kas
Tentu saja arus keuangan sebelum dan sesudah memiliki anak sangat berbeda. Dengan hadirnya seorang anak, maka kebutuhan pun akan bertambah. Biaya imunisasi, popok, baju dan perlengkapan bayi lainnya. Btw, ternyata bayi itu cepat sekali tumbuh ya? Mengharuskan untuk beli baju anak paling tidak sebulan sekali. Haha..

Solusi yang coba kami terapkan adalah dengan melakukan manajemen keuangaan bulanan. Dimulai dengan melakukan perencanaan, pencatatan, dan evaluasi. Harapannya bisa terhindar dari jerat lebih besar pasak dari pada tiang.

2. Memilih prioritas tujuan finansial
Pada tahun pertama pernikahan kami, tujuan finansial kami fokus pada ingin punya tabungan dana darurat, memulai investasi untuk masa pensiun, beli rumah, dan bisa jalan-jalan ke luar negeri. Apakah semuanya tercapai? Tidak, tapi beberapa diantaranya sudah mulai dijalankan.

Setelah melakukan checkup finansial, tahun ini kami memilih fokus pada proteksi jiwa, tabungan dana darurat, dan tabungan pendidikan anak jangka pendek. Kenapa kami memilih fokus pada 3 tujuan tersebut, nanti dijelaskan pada tulisan berikutnya beserta rincian produk financial yang kami pilih.

Bagaimana dengan Anda? Apakah sudah memasukkan rencana keuangan keluarga dalam resolusi tahun baru?

About the author

kristin

View all posts

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *