Cerita melahirkan dari rumah

Mendekati hari perkiraan lahir (HPL) yang diprediksikan dokter, saya semakin bersemangat. Rasanya campur aduk antara senang, tidak sabar, cemas, terharu, dan yang jelas semakin mudah lelah karena kondisi perut yang semakin membesar. Maklum, total kenaikan berat badan selama hamil adalah tidak kurang dari 15 kg, dengan berat badan bayi 3,1 kg ketika lahir.

Hari yang dinanti-nanti pun tiba,  Minggu, 12 Maret 2017 pukul 02:30 dini hari, akhirnya Maika memberikan tanda cinta lewat KPD (ketuban pecah dini) mengisyaratkan bahwa dia ingin segera dilahirkan. Dengan penuh suka cita saya langsung memanggil suami dan memintanya untuk menghubungi bidan. Jauh-jauh hari sebelumnya memang kami sudah mempersiapkan berbagai hal untuk persiapan melahirkan di rumah dibantu oleh bidan.

Setelah menghubungi bidan, kami pun berpelukan penuh haru, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Sambil menunggu bidan, suami menyarankan agar saya kembali  tidur dan beristirahat. Satu jam kemudian bidan datang, saat itu saya tidak merasakan kontraksi sama sekali. Padahal menurut bidan saya sudah pembukaan 3.

Belum ada kontraksi, induksi alami berbagai cara

Pagi harinya sekitar pkl 06:30 bidan kembali melakukan pengecekan dalam, belum ada tambahan pembukaan dan gelombang cinta yang dibilang menyakitkan itu pun belum kunjung datang. Dikarenakan air ketuban yang pecah cukup banyak, saya disarankan untuk tidak melakukan banyak gerakan. Induksi alami dilakukan dengan berpelukan dan bermanja-manjaan dengan suami, minum jus kiwi+nanas, dan dipijat pada bagian telapak kaki. Saya berusaha untuk berpikir positif dan tetap tenang, melakukan hypnobirthing dengan mendengarkan aplikasi audio kontraksi nyaman lewat handphone.

Menunggu mulas. Minum jus kiwi+nanas sambil main peanut ball karena ketuban pecah dini.

Hal ini kami lakukan karena memang dari awal kami ingin melakukan segala sesuatunya sealami mungkin, termasuk menghindari pemberian obat-obatan untuk induksi. Saya percaya bahwa satu tindakan intervensi medis akan memicu tindakan berikutnya. Setidaknya demikian cerita yang saya dengar dari pengalaman teman-teman sendiri.

Setelah dibantu dengan pijat akupresur oleh bidan dan suami, akhirnya kontraksi pun mulai muncul pada pkl 13:00 WIB. Awalnya tidak begitu sakit, setelah diperbolehkan bergoyang-goyang pinggul di atas gymball untuk menambah bukaan, kontraksipun bertambah intens setelah lewat waktu ashar mulai pkl 15:30 WIB. Menjelang waktu magrib bidan mengatakan sudah pembukaan 7 dan saya dibimbing masuk ke dalam kolam yang sudah diisi air hangat.

Menunggu crowning

Adzan magrib berkumandang, gelombang cinta pun semakin dahsyat. Menurut bidan bukaannya sudah lengkap yang ditandai dengan semakin banyaknya lendir darah yang muncul ke permukaan kolam. Para bidan masih memandu saya untuk mengatur nafas sambil menunggu proses crowning – dimana kepala bayi sudah terlihat dan bisa dipegang-.

Sambil terus berusaha mengatur nafas dan berganti posisi, rasa mulas itu akhirnya muncul juga. Saya berusaha mengubah posisi dari duduk ke posisi merangkul tepi kolam plastik dengan lutut menempel di dasar kolam supaya lebih nyaman. Niatnya saya tidak mau mengejan untuk menghindari robekan pada perenium. Ternyata rasa mulas itu tak tertahankan, tak kuasa akhirnya saya mengejan. Dengan sekali tarikan nafas yang dihembuskan sekuat tenaga, seketika itu pula para bidan terkejut menyadari kepala bayi sudah keluar.

Dalam kondisi kebingungan saya bertanya harus bagaimana, perlukah mengubah posisi menungging ke posisi lainnya untuk mengeluarkan bagian badan bayi? Karena semua orang di ruangan termasuk saya tidak menyangka proses crowning berlangsung secepat itu, mengingat ini adalah kelahiran anak pertama. Dalam sesi kelas persiapan persalinan yang pernah kami ikuti sebelumnya, bidan sudah pernah memberitahukan bahwa setelah pembukaan lengkap, masih harus menunggu fase crowning sebelum bayi benar-benar dilahirkan dengan  utuh. Pada kelahiran anak pertama, proses crowning bisa berlangsung antara 1 sampai dengan 4 jam.

Melahirkan di air, benarkah tidak sakit?

Tepat pada pukul 18:45 WIB, suara tangis Maika pun terdengar di seluruh rumah. Rupanya bayi saya memilih untuk dilahirkan di dalam air dengan posisi saya menungging. Maika terlahir sempurna dengan berat 3.140 gram dan panjang 48 cm, didampingi oleh ayahnya dan dibantu oleh para bidan.

Lalu apakah benar melahirkan di dalam air itu tidak sakit? Bayangkan saja ketika badan kita terasa sakit atau pegal lalu memutuskan untuk berendam air hangat, bagaimana rasanya? Bukankah terasa nyaman dan lebih rileks? tapi apakah kemudian sakitnya langsung hilang? Tentu saja tidak.

Dari awal memang sudah saya niatkan bahwa penggunaan kolam air hangat dimaksudkan untuk rileksasi dan meredakan nyeri kontraksi. Perihal bayi mau lahir di air atau di atas kasur saya serahkan sepenuhnya kepada bayi saya. Tugas saya hanya membantunya memberikan ruang dan rasa nyaman agar dia bisa mendorong dirinya terlahir ke dunia. Dan kenyataannya kolam air hangat sangat membantu saya lebih rileks dalam menghadapi nyeri kontraksi.

Sekuat tenaga fokus mengatur nafas menyambut kontraksi demi kontraksi

Satu hal yang selalu saya ingat adalah bahwa setiap kali kontraksi datang artinya bayi saya sedang berjuang untuk keluar. Semakin intens gelombang cinta itu menyapa, semakin cepat saya akan bertemu dengan bayi saya. Maka setiap kali rasa sakit itu datang, saya merasa bersyukur dan menyambutnya dengan segera menata nafas. Saya membuktikan bahwa kekuatan pikiran adalah kunci keberhasilan.

Betapa bersyukurnya saya yang diberikan kemudahan dan kelancaran dalam melewati proses persalinan. Meskipun beberapa hari sebelumnya saya sempat cemas tidak karuan, karena dokter sudah memperingatkan resiko pendarahan jika saya ingin melahirkan dengan normal terlebih melahirkan di rumah. Hasil lab terakhir menunjukkan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah hanya 9,1. Sedangkan menurut dokter, idealnya Hb minimal adalah 12 jika ingin melahirkan normal.

Setelah berdiskusi dengan suami dan berkonsultasi dengan bidan Yessi serta  Bidan Yuli yang akan membantu proses persalinan, akhirnya saya mendapatkan kembali keyakinan bisa melahirkan di rumah dengan normal. Saya pun diresepkan beberapa vitamin dan asupan yang harus dikonsumsi setiap hari agar bisa membantu meningkatkan kadar Hb dengan cepat.  Sekali lagi saya membuktikan bahwa usaha yang disertai dengan keyakinan dan kekuatan pikiran akan membuahkan hasil seperti yang kita harapkan.

Soal gentle birth dan melahirkan di rumah

Hari ini tepat tiga bulan yang lalu, pada 12 Maret 2017, Maika memilih sebagai hari kelahirannya di usia kandungan 38 minggu 4 hari. Lebih cepat 10 hari dari perkiraan dokter memang, tapi persis seperti yang saya harapkan. Hari yang kami pilih dan sepakati melalui afirmasi yang selalu saya bisikkan selama kehamilan. Masih terekam dengan jelas di ingatan saya bagaimana proses persalinan Maika sesuai dengan harapan saya dan suami.

Sebuah proses persalinan alami yang ramah jiwa, lembut, lancar, penuh keintiman, minim intervensi medis, dan yang terpenting dilakukan di rumah sendiri.

Soal istilah gentle birth

Pertama kali saya mengenal istilah gentle birth dari sahabat saya yang baru saja melahirkan. Sewaktu dia tahu mengenai kabar kehamilan saya, dia bercerita tentang bagaimana pengalaman proses persalinannya yang nyaman, lancar, dan lembut meskipun dilakukan di rumah sakit di kota Balikpapan. Didorong oleh rasa penasaran yang didominasi oleh rasa takut saat melahirkan nanti, akhirnya saya pun mencari tahu tentang gentle birth. Beruntung, pada usia kehamilan 20 minggu saya bisa mengikuti kelas privat yang diadakan oleh Bidan Yessi Aprilia, praktisi gentle birth dari bidankita.com.

Sama seperti kebanyakan orang yang salah kaprah mengartikan gentle birth, awalnya saya mengira gentle birth adalah metode lahiran di air.  Saya sendiri pernah melihat secara langsung proses melahirkan dengan metode water birth yang tenang dan tanpa intervensi medis, jauh sebelum menikah -yang kini baru saya sadari bahwa yang saya saksikan itu adalah sebuah proses gentle birth-. Waktu itu saya sedang melakukan syuting film dokumentasi tentang Ibu Robin Liem – pemenang CNN Heroes 2011- di klinik Bumi Sehat beliau yang berlokasi di Nyuh Kuning, Ubud Bali.

Setelah mengikuti sesi kelas dengan Bidan Yessie, saya semakin paham bahwa ternyata gentle birth lebih dari sekedar metode, melainkan sebuah cara pandang yang kita yakini. Gentle birth adalah tentang perasaaan menerima, mensyukuri, dan menikmati setiap prosesnya. Gentle birth berarti memahami dan sadar apa yang terbaik buat kita dalam menjalankan proses kehamilan, melahirkan, sampai dengan membesarkan anak.

 

Apakah gentle birth harus melahirkan di rumah dan dengan proses normal?

Tentu saja tidak. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa teman saya yang mengenalkan istilah gentle birth untuk pertama kalinya, melahirkan gentle birth di rumah sakit dengan normal. Ada pula teman-teman saya yang bergabung di milis Keluarga Gentle Birth yang melahirkan dengan c-section dan lembut. Apapun pilihannya, yang terpenting adalah kita memilihnya dengan sadar dan yakin bahwa inilah pilihan terbaik yang membuat kita merasa nyaman.

Esensi dari gentle birth adalah memberdayakan diri, terus belajar, dan mensyukurinya. Sementara water birth, home birth, hypnobirthing, yoga, lotus birth, dan lainnya hanyalah cara-cara yang dipilih untuk membantu dalam menjalankan prosesnya. Apapun istilahnya yang lebih penting adalah bahwa kita tahu bahagimana menjalankan setiap proses kehamilan yang nyaman dan terbaik buat kita.

Saya percaya bahwa melahirkan adalah proses spiritual luar biasa bagi seorang wanita. Tanpa pandang bulu, apakah dia melahirkan dengan proses normal ataupun lewat prosedur operasi. Melahirkan tetaplah melahirkan, yang akan mengubah seorang wanita menjadi ibu. Bagaimanapun prosesnya ada 2 nyawa yang sedang diperjuangkan. Selamat dan sehat untuk keduanya adalah yang terpenting. Namun terkadang apa yang mampu kita lakukan melampau apa yang kita pikirkan. Yang diperlukan hanyalah keyakinan dan usaha sepenuh hati. Hasilnya, biarlah Tuhan dan semesta yang menentukan.

Moment skin to skin pertama Maika dengan bapaknya, sesaat setelah belajar IMD :*

Kenapa saya memilih untuk melahirkan di rumah? Karena saya percaya bahwa rumah adalah tempat yang paling nyaman untuk melahirkan. Entah kenapa saya selalu merasa cemas dan terintimidasi jika mendengar kata rumah sakit. Karena itulah saya memilih untuk melahirkan di rumah dengan pertimbangan kenyamanan dan menghindari intervensi medis yang tidak diperlukan.

Dalam gentle birth diyakini bahwa proses hamil, melahirkan, dan membesarkan anak adalah sebuah proses alami yang sudah terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Oleh karenanya kita harus memberdayakan kemampuan diri selama menjalankan segala prosesnya dan mensyukurinya.

Alhamdulillah semua upaya pemberdayaan diri yang saya dan suami lakukan dari awal kehamilan pun membuahkan hasil, melebihi yang bisa kami bayangkan. Maika lahir ketika saya sedang relaksasi di dalam kolam air hangat dengan lembut dan spontan.

Cerita proses persalinan Maika, saya ceritakan dalam postingan ini.