Belajar presisten mencintai diri sendiri

Pernah gak ada yang nanya, “Do you love your self? Or how much do you love your self?

Kalau dulu ada yang nanya  begitu mungkin respon saya “He, apaan sih? Maksudnya seberapa mengagumi diri sendiri gitu? atau mau ngajakin banyak-banyakan foto selfie yah?”

No! Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan selfie dan narsis. Mencintai diri sendiri tidak sama dengan mengekspresikan kenarsisan lewat foto ataupun memiliki rasa percaya diri yang terlampau tinggi. Mencintai diri sendiri adalah tentang rasa menerima dan perasaan penuh syukur atas keberadaan kita di dunia ini yang direfleksikan lewat perbuatan sehari-hari.

Hmm.. berat amat yah hidup gue? Iyah, kelihatannya memang agak-agak kurang kerjaan gak penting dan berat gitu. Makanya sering terabaikan. Kalau ada yang pernah ikutan seminar-seminar motivasi atau pelatihan self healing pasti sering muncul tuh pertanyaan tentang seberapa kita mencintai diri kita. Kenapa? Katanya sih karena dalam ilmu dan bidang apapun, mencintai diri sendiri adalah modal utama yang memotivasi untuk mencapai apapun yang dicita-citakan. Ingin sukses dalam karir atau ingin jadi pengusaha milyarder? Ingin jadi model atau punya badan kaya Kendal Jenner? Ingin move-on dari mantan atau ingin mengejar kekasih impian? Semuanya bisa, kuncinya diawali dengan mencintai diri sendiri dulu. Hebatkan?

Bahkan dalam teori romansa pun dikatakan bahwa kita tidak akan bisa mencintai orang lain sebelum bisa mencintai diri sendiri. Iyah, betul begitu nyatanya.

Lalu kenapa harus belajar presisten mencintai diri sendiri? Apa bedanya presisten dengan konsisten?

Pertama, mencintai diri sendiri saja bukan perkara mudah, apalagi  belajar presisten.  Kedua, presisten bukanlah sebuah keharusan, tapi sebuah komitmen suka rela atas kesadaran dan keinginan sendiri. Konsisten adalah suatu kondisi dimana kita berupaya untuk tetap taat dalam melakukan suatu hal yang sama terus menerus, sedangkan presisten bukan sekedar tetap taat melainkan berusaha untuk memperbaiki dari segi kualitas setiap harinya. Dengan kata lain ada inisiatif mengevaluasi dengan suka rela dan disertai dengan upaya memperbaikinya.

love your self

Sebenarnya postingan kali ini masih berhubungan dengan tulisan saya di awal tahun tentang resolusi tahun baru dan upaya menjadi (kurus) sehat. Suatu hari ketika saya sedang melihat-lihat buku di deretan rak kesehatan dan diet di Gramedia Pejatenn Village, saya menemukan buku dengan judul “Happy Eating Go Langsing” Setelah membaca deskripsi pada bagian belakang buku dan prasangka dalam kepala “Happy eating go langsing, Ha? Emang bisa?” akhirnya rasa penasaran saya membawa serta buku tersebut ke meja kasir dan membawanya pulang.

Weekend itu langsung saya habiskan dengan membaca buku karya Mbak Nunny Hersianna tersebut. Selesai membaca saya malah tambah penasaran dan mencari tahu lebih lanjut di situsnya yang beralamat di golangsing.com. Tidak lama dari situ akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti coaching yang ditawarkan. Setelah 2 hari mengikuti coaching Happy Eating Go Langsing (HEGL), saya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Iyah, jatuh cinta pada diri sendiri. Layaknya orang yang jatuh cinta, tak bosan-bosan saya bercerita kepada suami tentang pengalaman yang saya rasakan selama mengikuti pelatihan.

Saya menemukan cara bagaimana belajar presisten mencintai diri sendiri. Bahkan saya merasa bahwa HEGL bukan sekedar tempat untuk belajar melangsing, melainkan menemukan formula kebahagiaan hidup. Mungkin memang terdengar berlebihan, tapi lewat HEGL selama dua bulanan ini saya merasakan perubahan positifnya :

  • Entah kenapa somehow terlalu banyak hal yang patut disukuri dalam sehari.
  • Berdamai dengan emosi dan makanan. Di HEGL diajarkan bahwa semua makanan itu baik, namun pilihlah dengan bijak mana yang dibutuhkan oleh tubuh.
  • Meninggalkan mindset diet-diet instan yang sifatnya cuma sementara. Fokus pada memperbaiki kualitas kesehatan setiap harinya, langsing itu bonus dan yang paling penting menikmati prosesnya.
  • Suka banget bergerak, hampir setiap hari berolah raga dengan suka rela dan bahagia.
  • Emosi jadi lebih stabil dan lebih sabar dalam menghadapi masalah (yang ini testimoni dari suami sih. hehe)
  • Perasaan lega dan senang karena tidak terbebani dengan larangan-larangan makanan tertentu.
  • Motivasi dari group support yang juga alumni pelatihan HEGL. Pengalaman mereka sungguhlah luar biasa. Ingin rasanya di usia 50an masih memiliki semangat dan lebih mencintai diri sendiri.

So, bagaimana caranya belajar mencintai diri sendiri dengan presisten?

Saya memilih mengawalinya dengan be grateful, eat mindfully, move more and be happy every day!

Muka sumringah sarapan buah naga setelah poking (power walking) dan mandi matahari :D
Muka sumringah sarapan buah naga setelah poking (power walking) dan mandi matahari 😀