Menemukan rasa percaya diri pascamelahirkan

Delapan bulan setelah melahirkan, euforia cerita melahirkan mulai samar-samar di pikiran. Teralihkan dengan berbagai keseruan dalam mengasuh dan melewati hari-hari bersama kesayangan. Sayangnya, masih ada bonus tidak menyenangkan dari cerita pasca-melahirkan yang  tidak bisa diabaikan begitu saja. Ialah rasa percaya diri yang tertimbun bersama tumpukan baju-baju kala sebelum hamil, bekas luka jerawat di wajah, dan bekas strechmark di perut.

Terlepas dari semua rasa bahagia yang menyelimuti, percayalah bahwa jauh di lubuk hati kami -para wanita sehabis melahirkan (atau paling tidak saya)- sesekali disibukkan mencari rasa percaya diri yang terserak entah dimana. Serasa ingin berseru “badanku dulu tak segini, tapi kini tak cukup lagi” dengan miris.

Bagaimana tidak, ketika sedang berkumpul di acara keluarga atau reuni cobalah untuk ikut foto bersama dan lihatlah hasilnya. Beruntung bila ketika difoto posisi kita tersamarkan oleh anak yang kita gendong. Atau coba saja bercermin tanpa busana sehabis mandi. Siapa tahu bisa menjadi penyemangat untuk membuat program transformasi seperti yang ada di IG-IG.

Bagi sebagian wanita mungkin ada yang sudah kembali ke berat badan normal sebulan setelah melahirkan. Bahkan ada yang seminggu setelah melahirkan sudah bisa memakai celana jeans dengan ukuran sebelum hamil. Sayangnya hal itu tidak terjadi pada saya. Selama hamil total kenaikan berat badan saya 15 kg. Lebih dari separuhnya masih  bersahabat dengan angka timbangan sampai saat ini.

Selain berat badan, bonus lainnya adalah bekas strechmark di perut yang muncul menggemparkan waktu usia kehamilan 7 bulan. Meskipun sudah mengoleskan berbagai krim anti-strechmark dari usia kehamilan 5 minggu. Apalah daya, strechmark berkehendak untuk menampakkan dirinya. Menjadi saksi dan penanda kebahagiaan dalam cerita kehamilan anak pertama kami.

Cerita ibu hamil yang terlihat lebih glowing itu memang benar adanya. Saya sendiri sering melihatnya hal tersebut terjadi pada ibu-ibu yang saya kenal. Sayangnya tidak semua wanita terlihat kinclong ketika hamil. Jauh dari glowing, bahkan terlihat lusuh dan buruk rupa karena hormon yang mengakibatkan jerawat muncul di seluruh muka. Begitulah yang terjadi pada saya.

Untungnya, saya menyadari kemungkinan-kemungkinan tersebut bisa terjadi terhadap ibu hamil manapun, termasuk saya. Sambil terus berpikir positif bahwa semua ini hanya sementara dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebahagiaan memiliki anak yang sedang saya kandung. Berusaha cuek dan menerimanya dengan legowo.

Tapi itu cerita dulu, menjadi berbeda ketika hari ini – delapan bulan setelah melahirkan- sisa-sisa bonus tersebut masih bertahan, menimbun rasa percaya diri yang harus segera saya temukan.

Untuk menemukannya, saya harus menata ulang pikiran saya. Menemukan alasan paling mendasar kenapa harus melakukannya. Jangan sampai memaksakan diri hingga mengorbankan hal lainnya. Meskipun saat ini anak saya sudah makan (MPASI), namun kebutuhan ASI tetap menjadi prioritasnya. Mungkin di sini tantangannya, menemukan keseimbangan antara kepentingan untuk sendiri tanpa mengorbankan kebutuhan anak. Adakah ibu-ibu lain yang merasa galau seperti saya?