Tentang tekanan sosial merawat anak

Tidak ada rumus baku dan ilmu pasti dalam mengasuh anak. Percayalah pengalaman dan insting kita adalah guru terbaik yang akan menuntun kita dalam memilih tindakan yang dirasa paling baik untuk anak kita. Apa yang diterapkan oleh ibu lain untuk anaknya belum tentu cocok dilakukan untuk anak kita.

Berbicara mengenai pola asuh memang bukan hal yang selesai dalam sekali duduk sambil nongkrong di kedai kopi favorit. Apalagi jika lawan diskusi kita adalah orang yang memiliki pemikiran berbeda. Namun melihat sudut pandang orang lain dalam membesarkan anak bisa membuka wawasan dan yang terpenting adalah saya bisa belajar.

Sebagai ibu baru yang masih minim pengalaman, terkadang saya merasa kurang percaya diri dengan tindakan yang saya lakukan. Apalagi jika melibatkan keputusan yang berhubungan langsung dengan pilihan metode pengasuhan. Bahkan sejak awal sebelum sang anak terlahir ke dunia, pertanyaan- pertanyaan seperti mau melahirkan dengan normal atau cesar, di rumah sakit atau di klinik, mau lotus birth atau tidak, dan sebagainya sudah membuat kewalahan.

Tidak berhenti di situ, masalah krusial lain adalah ketika si bayi sudah berada dalam pelukan. Sanggupkah saya memberikan ASI eksklusif sambil bekerja penuh waktu? Siapakah nanti yang akan menjaga anak di rumah? Apakah anak saya akan baik-baik saja jika tumbuh dengan bantuan pengawasan orang lain dan tidak didampingi selama 24 jam oleh ibu-bapaknya? Satu pertanyaan akan melahirkan pertanyaan berikutnya yang disusul dengan rasa kekhawatiran. Mampukah saya menjadi orang tua yang baik?

Lebih parah lagi, di era yang katanya zaman now ini, setiap ibu pasti tidak bisa lepas dari terpaan media sosial. Keinginan untuk update di insta story, facebook, atau path begitu tak tertahankan. Seolah berlomba-lomba ingin menunjukkan kepintaran anaknya. Secara tidak sadar, perlahan dan pasti terpaan informasi tersebut merasuki pikiran dan menjadikan kita sebagai orang tua yang insecure, meninggalkan tekanan sosial dalam mengasuh anak. Bisakah saya punya anak sepintar dan selucu dia?

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai orang tua kita memiliki kecenderungan untuk membandingkan tumbuh kembang anak kita dengan anak-anak lainnya. Paling tidak terlintas di pikiran apakah anak kita sudah sebaik atau sepintar si anak artis itu? Percayalah bahwa kenyataan tak melulu seindah dan seinstant postingan di media sosial. Sudah banyak penelitian yang membuktikannya.

Jangan biarkan pikiran kita terjebak pada ketidaknyataan apalagi sampai terobsesi. Bisa jadi yang dirugikan adalah anak kita, bukan kita. Sebelum posting tentang anak kita di media sosial, coba bayangkan dalam 10 atau 20 tahun kemudian, apakah dia tidak masalah dengan apa yang kita unggah hari ini? saya pun masih terus belajar.

Sampai pada satu titik saya menyadari bahwa menjadi orang tua yang baik bukanlah soal seberapa banyak pujian atau hadiah yang ditujukan padanya. Bukan pula soal sudah sepandai apa kemampuannya dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Kebahagiaan menjadi orang tua adalah ketika saya bisa hadir untuknya, mendampingi setiap tahap tumbuh kembangnya, dan menikmati setiap prosesnya.