Parenting Dengan Trauma

Parenting Dengan Trauma

Suatu hari, di tengah rutinitas pagi menyiapkan sarapan dan bekal sekolah anak, sebuah percakapan biasa berakhir menjadi titik balik dalam perjalanan parenting saya.

Anak saya yang waktu itu berusia 7 tahun, sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Ia duduk tenang di meja makan, memperhatikan menu sarapan yang saya siapkan: segelas susu dan telur ceplok dengan sedikit garam dan lada.

“Bu, ini susu sapi atau susu kedelai?” tiba-tiba dia bertanya sambil mengangkat gelasnya dan mencoba mencium aroma dari permukaannya.

“Susu sapi segar!” saya menjawab tanpa ragu.

Saya yang masih menyusun bekalnya menoleh ke arahnya, yang belum juga menyentuh sarapannya.

Kemudian dia kembali bertanya, “Ibu yakin ini susu sapi?” sambil terus mengamati gelasnya.

Belum sempat saya menjawab, dia sudah melanjutkan, “Kok baunya kayak susu kedelai?”

Mendengar pernyataannya—yang sebenarnya, kalau dipikir sekarang, disampaikan dengan nada biasa saja—entah kenapa saat itu terdengar seperti serangan, dan saya meledak.

“Maksudmu, ibu bohong? Bilang susu kedelai sebagai susu sapi? Kamu nggak percaya sama ibu?”

Rupanya nada bicara saya meninggi, membuatnya ketakutan dan menangis. Melihat dia menangis, saya malah memarahinya. Dia yang tidak tahu apa-apa jadi makin histeris. Sungguh pagi yang chaos.

Hari itu saya merasa terpukul. Tapi pada akhirnya, saya bersyukur melalui peristiwa krusial itu, karena dari sanalah saya mulai mengenal trauma—dan belajar menghadapinya.

Trauma itu Nyata

Seharian saya menangis, menyesali ucapan dan sikap saya. Saat itu saya sadar, ada yang tidak beres dalam diri saya. Kenapa saya begitu mudah terpancing emosi, hanya karena pertanyaan polos seorang anak yang mungkin sedang dalam proses belajar?

Dalam proses memahami emosi saya, dorongan paling besar pada saat itu adalah marah. Dan biasanya, marah muncul ketika kita merasa ada hak yang direnggut. Apakah saat itu saya merasa hak saya untuk dicintai sebagai ibu direnggut, karena tidak dipercaya oleh anak sendiri?

Dari situ saya sadar, bahwa parenting terhadap anak adalah refleksi terhadap trauma kita di masa lalu

Ternyata, kemarahan saya waktu itu adalah reaksi dari trauma saya yang tumbuh dalam keluarga disfungsional. Dua kebutuhan dasar seorang anak, yaitu merasa aman dan dicintai, sudah direnggut sehingga meninggalkan luka emosional dan trauma “aku tidak berharga” serta “aku tidak layak dicintai”.

Trauma bukanlah aib. Semua orang memiliki traumanya sendiri. Ada yang mengalami trauma akut akibat peristiwa besar yang mendadak. Ada juga trauma kronis yang berasal dari kejadian-kejadian kecil, tapi terus berulang dalam waktu lama, dan akhirnya membentuk luka yang dalam.

Menerima trauma adalah bagian dari menerima diri seutuhnya. Tidak mudah, tapi hanya dengan menerimanya, saya bisa mulai memulihkan diri.

Menyembuhkan trauma adalah perjalanan seumur hidup. Seperti perjalanan spiritual yang naik turun, begitu pula proses ini. Yang bisa saya lakukan adalah belajar jujur pada diri sendiri. Saya belajar mengenali kapan saya bisa menghadapinya sendiri, kapan perlu bercerita pada pasangan atau orang terpercaya, dan kapan waktunya mencari bantuan profesional.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *