Parenting Dengan Trauma
Suatu hari, di tengah rutinitas pagi menyiapkan sarapan dan bekal sekolah anak, sebuah percakapan biasa berakhir menjadi titik balik dalam perjalanan parenting saya.
Suatu hari, di tengah rutinitas pagi menyiapkan sarapan dan bekal sekolah anak, sebuah percakapan biasa berakhir menjadi titik balik dalam perjalanan parenting saya.
Setelah membuat hitungan untuk dana pendidikan anak, langkah berikutnya adalah memilih instrumen investasi yang tepat. Memilih instrumen investasi ini menjadi sangat penting karena menentukan apakah tujuan dana pendidikan bisa tercapai tepat waktu dan nominal.
Semua orang tua pasti menginginkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Sayangnya tidak semua orang tua pada akhirnya bisa mewujudkan harapan tersebut. Bisa menyekolahkan anak dan bisa menyekolahkannya sampai dengan selesai adalah dua hal yang berbeda. Bedanya ada di kata perencanaan. Pertanyaannya seberapa sungguh-sungguhkah kita ingin menyekolahkan anak kita sampai lulus sarjana? Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk memastikannya?
Buat ukuran orang tua baru, mungkin saya termasuk ibu yang malas belajar soal tumbuh kembang anak dari internet. Sebagian besar ilmu parenting yang saya terapkan adalah berdasarkan naluri dan diskusi bareng suami. Kalo perlu referensi dari luar, paling mentok bertanya kepada orang tua.
Tepat sebelas bulan lalu, untuk pertama kalinya saya merasakan sebuah kebahagiaan yang hampir tidak bisa saya bendung. Hangatnya perasaan senang penuh syukur bisa saya rasakan menjalar di sekujur tubuh sambil memeluk haru bayi yang baru saya lahirkan. Saya yakin pada saat ini tubuh saya bergetar saking terharu dan senangnya, antara percaya dan tidak percaya. Priceless moment yang akan selalu menggetarkan untuk diingat.
Tahun ini adalah tahun ketiga pernikahan saya dan suami. Karena kami menikah pada awal tahun 2015, maka sinergi semua rencana keuangan biasanya kami lakukan bersamaan dengan moment tahun baru.
Sejak awal bahkan dari sebelum menikah, saya dan suami memang memilih untuk terbuka terhadap kondisi keuangan dan rencana financial setelah menikah. Karena kami percaya bahwa rumah tangga yang sehat dimulai dari keuangan keluarga yang sehat.
Delapan bulan setelah melahirkan, euforia cerita melahirkan mulai samar-samar di pikiran. Teralihkan dengan berbagai keseruan dalam mengasuh dan melewati hari-hari bersama kesayangan. Sayangnya, masih ada bonus tidak menyenangkan dari cerita pasca-melahirkan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ialah rasa percaya diri yang tertimbun bersama tumpukan baju-baju kala sebelum hamil, bekas luka jerawat di wajah, dan bekas strechmark di perut.
Dulu, sebelum punya anak hampir tidak pernah terpikir ada istilah toilet training. Yang terlintas adalah pertanyaan “memang sesulit apa sih mengajarkan pipis di toilet kepada anak-anak?”
Setelah punya anak, soal toilet training ini ternyata jadi pe-er para orang tua yang lumayan merepotkan, tak terkecuali saya.
Tidak ada rumus baku dan ilmu pasti dalam mengasuh anak. Percayalah pengalaman dan insting kita adalah guru terbaik yang akan menuntun kita dalam memilih tindakan yang dirasa paling baik untuk anak kita. Apa yang diterapkan oleh ibu lain untuk anaknya belum tentu cocok dilakukan untuk anak kita.